This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 21 Februari 2016

Otak Sebagai Sumber Komunikasi Peradaban (Suatu Kajian Komunikasi Berspektif Integrated Science)

 Oleh Prof. Dr. Hj Nina Winangsih Syam, M.S
Terdapat dua alasan mengapa otak sangat penting bagi manusia. Pertama, secara biologis otak adalah “pusat” semua aktivitas tubuh, baik itu kegiatan disadari maupun tidak disadari. Kedua, secara simbolis, otak diposisikan pada bagian tubuh yang paling atas dan menempati posisi paling tinggi dari organ tubuh.
Kajian tentang otak dan kecerdasan manusia sangat penting dalam komunikasi peradaban, karena peradaban (komunikasi peradaban) menjadikan “mind” sebagai landasan berpijaknya. Berdasarkan hal ini, maka perdaban haruslah dikomunikasikan (dikonstruksikan/disosilaisaikan) oleh aktor-aktor peradaban yang memiliki tingkat kecerdasan yang komplit, yakni IQ, EQ, dan SQ. ditangan orang yang memiliki ketiga kecerdasan inilah akan lahir peradaban yang rahmatallilalamin. Sebaliknya tanpa memiliki ketiga kecerdasan tersebut maka peradaban yang akan dihasilkan adalah peradaban yang “pincang” dan akan hancur, seperti hancurnya negeri-negeri (peradaban-peradaban) tempo dulu yang telah digambarkan oleh Harun Yahya (2004) dalam bukunya Negeri-Negeri yang musnah.
Islam memandang bahwa ilmu pengetahuan adalah unsur penting dalam membangun peradaban. Sebagaimana banyak ayat Al-Qur’an yang menyinggung masalah ilmu yang tak kurang dari 780 kali lafadz di dalamnya.
Umat Islam sadar bahwa untuk membangun peradaban yang maju, tidak hanya mengandalkan ilmu agama, tetapi juga dengan pengetahuan sains modern. Oleh karena itu, menurut penulis, ada dua masalah penting yang harus diperhatikan umat Islam yakni :
a. Sains dan ilmu yang digeluti oleh umat Islam haruslah dikawal dengan Iman agar sains tersebut digunakan pada tempat dan tujuan yang tepat dan benar.
b. Islam telah mendorong kaum muslimin untuk melengkapi diri mereka dengan sains dan teknologi untuk menjamin kemerdekaan dan perkembangan masyarakat Islam demi menjaga aspek-aspek spiritual (QS. Al-Anfal ayat 6).


Komunikasi Peradaban (Berbasis Al-Quran dan Akal)
Terdapat perbedaan mendasar antara epistemologi barat dan epistemologi Islam. Ilmuan barat mengatakan bahwa yang termasuk science hanyalah ilmu-ilmu empiris. Sedangkan ilmuan muslim tidak hanya empiris, namun non empiris pun juga dikategorikan sebagai ilmu.
Dalam epistemologi Islam terdapat tiga metode ilmiah. Pertama empiris, yakni objek yang dapat diindra. Namun, menurut Ibnu Haitsam, indra memiliki keterbatasan, sehingga diperlukan alat bantu seperti teleskop dalam bidang astronomi. Kedua, burhani (logis). Metode yang dipakai untuk mengetahui objek nonfisik. Ketiga, intuitif (hati), adalah metode yang dipakai untuk mengetahui objek empiris maupun non empiris secara kontak langsung dengan objek yang hadir dalam diri seseorang.
Perbedaan epistemologi barat dan Islam ini member dampak pada ilmu pengerahuan yang dikembangkan. Barat yang hanya menggunakan empirisme dalam kajiannya menghasilkan sebuah science yang memisahkan hubungan antara tuhan dengan objek kajiannya. Pendekatan ilmu barat ini memberikan dampak negatif, yang ujung-ujungnya akan “memelesetkan” sang aktor intelektual ke lubang ateis.
Sekularisasi yang dilakukan oleh barat sangat sulit di counter oleh kalangan umat muslim karena belum ditemukannya perangkat rasional untuk menjawab tantangan barat. Untuk menanggapi hal ini, seorang cendekiawan muslim asal Indonesia, Dr. Mulyadi Kartanegara memformulasikan langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan yakni :
a. Naturalisasi ilmu, yakni proses akulturasi dari sebuah ilmu yang datang dari luar terhadap budaya yang baru ditanah baru.
b. “Islamisasi” sains, yakni semua ilmu yang ada diwarnai oleh umat Islam di wilayahnya masing-masing.
c. Renaisanse Ketiga, yakni dengan cara melakukan penerjemahan karya ilmiah dari seluruh penjuru negeri dan menghimpun sebanyak mungkin karya-karya ilmiah untuk dikaji, dianalisis, dan diterjamahkan sebaik mungkin.

Selasa, 18 November 2014

Bimbingan, e... malah rombak Total.

Kemarin aku habis bimbingan, wah.. Seneng sekali rasa hati.. Aku sangat optimis bisa di acc..

Setelah sekian lama aku garap.. Tibalah akhirnya saat dimana aku harus bimbingan. Banyak hal mengapa aku seneng waktu itu. Pertama, karena q garap skripsinya asal2an.. Enteng, gak seperti temen2 seng wis metenteng gawene.. Huh.. Bukane nyepelekan. Tapi skripsi q ini bagi q gak menarik n gak menantang. Q paling males mengerjakan sesuatu yang q anggap itu adalah hal yang tak penting.. Ah.. Sombingnya diri ku hehe.. Tapi ya wis lah.. Itu artinya aq punya semangat yang tinggi, q punya jiwa pejuang dan pekerja keras. Jika persoalannya berat tapi. Hehe ..

Kedua, yang mbikin aq sneng ya karena dari sekian temen2 q sejurusan, aku termasuk salah satu mahasiswa yang terbaik loh.. Hahaha wkwkwk.. Apa mungkin itu perasaan ku saja ya? Mbuh lah, tapi aq pede pede ae... Haha .. Temen2 ku pada ngeluh karena dosen2 nya gak enak.. Sulit cari referensi,, gak mudeng maksud dosen ennnn apalah.. Keluhan2 yang lain uaaakih nemen.. Mualesi aq ne ngerti wong mengeluh.. Du tak jites.. Ga pernah mondok si.. Coba kalo mondok.. Pasti gak akan ngeluh.. Karena ngeluh itu sama dengan berontak kepada Allah (Wow). Hehe .. Makanya kalau dari pondok itu seseorang punya banyak pandangan jika menghadapi sesuatu apapun. Tak mudah putuss asa.. (tp kok q sombong ya? Bertahap lah hehe)..

Paling tidak, dua hal itulah yang bikin aku seneng hehe.. Tapi kok elek kabeh ya??  Haha lah ya mboh..

Balik ke bimbingan! Setelah selesai bimbingan, wah ternyara bab 2 dari skripsiku salah total. Wah... Aq langsung disuruh rombak? Pye jal rasane? Wah biasa ae.. (cieee jiwa santrine muncul) haha.. Ya ku pkir itu artinya aq masih bodo.. Masih banyak hal yang belum q ketahui sampe2 semua sub bab harus di rombak haha... Ah.. Yang penting aq ws usaha lah... Dan akan ku maksimalkan kembali usaha q..

Itulah cerita ku hari kemarin.. Bukan maksud aq pamer atau bagaimana, aq nulis ini sebagai bagian dari cara ku untuk belajar menulis. Entah apapu kata kalian, apa peduli q. Yang penting aq bisa menulis.. Untuk menggapai salah satu cita-cita ku sebagai penulis. Dosen, hafid, dan penulis.

Sabtu, 14 Desember 2013

BAB I

Lafal Ta’awudz

Setiap akan membaca Al-Qur’an, baik dari awal maupun tengah surat disunnahkan untuk membaca ta’awudz. Adapun Shighat Ta’awudz yang paling utama adalah
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Adapun jika orang membaca :
أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
atau
أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
atau
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ

atau
أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Seperti itu juga boleh. Namun Rasul tidak melakukan Shighat yang seperti itu.
Di salah satu mushaf yang terdapat di samping dari awal surat Bara’ah (At-Taubah) sighat ta’awudznya adalah

أَعُوْذُ بِاللهِ  مِنَ النَّارِ, وَمِنْ غَضَبِ الْجَبَّارِ, اْلعِزَّةُ لِلهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ

Namun Rasulullah dan ahli Qurra tidak melakukan ta’awudz seperti itu. maka dari itu, jika membaca awal surat Bara’ah (At-Taubah) yang lebih utama cukup membaca

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 Keterangan : Shingat = Bentuk atau Lafal

Sumber : Umar, Abdullah. TT. Risalatul Qurra wal Huffadz, Semarang, Karya Toha Putra